BAB I
PENDAHULUAN
1.1. PERENCANAAN STRUKTUR
Perencanaan struktur dapat didefinisikan sebagai
campuran antara seni dan ilmu pengetahuan yang dikombinasikan dengan intuisi
seorang ahli struktur mengenai perilaku struktur dengan dasar-dasar pengetahuan
dalam statika, dinamika, mekanika bahan, dan analisa struktur, untuk
menghasilkan suatu struktur yang ekonomis dan aman, selama masa layannya.
Hingga tahun 1850 perencanaan struktur merupakan
seni yang berdasarkan pada intuisi untuk menentukan ukuran dan susunan elemen
struktur. Dengan berkembangnya pengetahuan mengenai perilaku struktur dan
material, maka perencanaan struktur menjadi lebih ilmiah.
Perhitungan yang melibatkan prinsip-prinsip ilmiah
harus dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, namun tidak diikuti secara
baik dan benar. Pengalaman intuisi seorang ahli struktur digabungkan dengan
hasil-hasil perhitungan ilmiah akan menjadi suatu dasar proses pengambilan
keputusan yang baik.
Tujuan dari perencanaan struktur menurut Tata Cara
Perencanaan Struktur Baja Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002) adalah
menghasilkan suatu struktur yang stabil, cukup kuat, mampu layan, awet, dan
memenuhi tujuan-tujuan lainnya seperti ekonomis dan kemudahan pelaksanaan.
Suatu struktur disebut stabil jika tidak mudah terguling, miring, atau tergeser
selama umur rencana bangunan. Risiko terhadap kegagalan struktur dan hilangnya
kemampuan layanan selama umur rencananya juga harus diminimalisir dalam
batas-batas yang masih dapat diterima. Suatu struktur yang awet semestinya
tidak memerlukan biaya perawatan yang terlalu berlebihan selama umur layannya.
Perencanaan adalah sebuah proses untuk mendapatkan
suatu hasil yang optimum. Suatu struktur dikatakan optimum apabila memenuhi kriteria-kriteria
berikut:
a. Biaya
minimum
b. Berat
minimum
c. Waktu
Konstruksi minimum.
d. Tenaga
kerja minimum
e. Biaya
manufaktur minimum
f. Manfaat
maksimum pada saat masa layan
Kerangka perencanaan struktur adalah pemilihan
susunan dan ukuran dari elemen struktur sehingga beban yang bekerja dapat
dipikul secara aman, dan perpindahan yang terjadi masih dalam batas-batas yang
disyaratkan. Prosedur perencanaan struktur secara iterasi dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Perancangan,
penetapan fungsi dari struktur
b. Penetapan
konfigurasi struktur awal (preliminary)
sesuai langkah a termasuk pemilihan jenis material yang akan digunakan
c. Penetapan
beban kerja struktur
d. Pemilihan
awal bentuk dan ukuran elemen struktur berdasarkan langkah a,b,c
e. Analisa
struktur. Untuk memperoleh gaya-gaya dalam dan perpindahan elemen
f. Evaluasi.
Apakah perancangan sudah optimum sesuai yang diharapkan
g. Perencanaan
ulang langkah a hingga f
h. Perencanaan
akhir, apakah langkah a hingga g sudah memberi hasil optimum
Salah satu tahapan penting dalam perencanaan
suatu struktur bangunan adalah pemilihan jenis material yang akan digunakan.
Jenis-jenis material yang selama ini dikenal dalam dunia kontruksi antara lain
adalah baja, beton bertulang, serta kayu. Material baja sebagai bahan
konstruksi telahdigunakan sejak lama mengingat beberapa
keunggulannya antara lain adalah:
1. Mempunyai
kekuatan yang tinggi, sehingga dapat mengurangi ukuran struktur serta
mengurangi pula berat sendiri dari struktur. Hal ini cukup menguntungkan bagi
struktur-struktur jembatan yang panjang, gedung yang tinggi atau juga
bangunan-bangunan yang berada pada kondisi tanah yang buruk
2. Keseragaman
dan keawetan yang tinggi, tidak seperti halnya material beton bertulang yang
terdiri dari berbagai macam bahan penyusun, material baja jauh lebih
seragam/homogeny serta mempuntai tingkat keawetan yang jauh lebih tinggi jika
prosedur perawatan dilakukan secara mestinya.
3. Sifat
elastic, baja mempunyai perilaku yang cukup dekat dengan asumsi-asumsi yang
digunakan untuk melakukan analisa, sebab baja dapat berperilaku elastic hingga
tegangan yang cukup tinggi mengikuti hokum Hooke. Momen inersia dari suatu
profil baja juga dapat dihitung dengan pasti sehingga memudahkan dalam
melakukan proses analisa struktur.
4. Daktilitas
baja cukup tinggi, karena suatu batang baja yang menerimategangan tarik yang
tinggi akan mengalami regangan tarik cukup besar sebelum terjadi keruntuhan
5. Beberapa
keuntungan lain pemakaian baja sebagai material konstruksi adalah kemudahan
penyambungan antara elemen yang satu dengan lainnya menggunakan alat sambung
las atau baut. Pembuatan baja melalui proses gilas panas mengakibatkan baja
menjadi mudah dibentuk menjadi penampang-penampang yang diinginkan. Kecepatan
pelaksanaan konstruksi baja juga menjadi suatu keunggulan material baja.
Selain keuntungan-keuntungan yang disebutkan
tersebut, material baja juga memiliki beberapa kekurangan, terutama dari sisi
pemeliharaan.
Konstruksi yang berhubungan langsung dengan udara
atau air, secara periodic harus dicar. Perlindungan terhadap bahaya kebakaran
juga harus menjadi perhatian yang serius, sebab material baja akan mengalami
penurunan kekuatan secara drastic akibat kenaikan temperature yang cukup
tinggi, disamping itu baja juga merupakan konduktor panas yang baik, sehingga
nyala api dalam suatu bangunan justru dapat menyebar dengan labih cepat.
Kelemahan lain dari struktur baja adalah masalah tekuk yang merupakan fungsi
dari kelangsingan suatu penampang.
1.1. BEBAN
Beban adalah gaya luar yang bekerja pada suatu
struktur. Penentuan secara pasti besarnya beban yang bekerja pada suatu
struktur selama umur layannya merupakan salah satu pekerjaan yang cukup sulit.
Dan pada umumnya penentuan besarnya beban hanya merupakan suatu estimasi
saja. Mesikipun beban yang bekerja pada
suatu lokasi dari struktur dapat diketahui secara pasti, namun distribusi beban
dari elemen ke elemen, dalam bekerja pada suatu struktur telah diestimasi, maka
masalah berikutnya adalah menentukan kombinasi-kombinasi beban yang paling
dominan yang mungkin bekerja pada struktur tersebut. Besar beban yang bekerja
pada suatu struktur diatur oleh peraturan pembebanan dalam SNI 03-1729-2002
pasal 6.2.2 yang akan dibahas kemudian. Bebarapa jenis beban yang sering
dijumpai antara lain:
a. Beban Mati,
adalah berat dari semua bagaian suatu gedung/bangunan yang bersifat
tetap selama masa layan struktur, termasuk unsur-unsur tambahan, finishing, mesin-mesin serta peralatan
tetap yang merupakan bagian tak terpisahkan dari gedung/bangunan tersebut.
Termasuk dalam beban ini adalah berat struktur, pipa-pipa, saluran listrik, AC,
lampu-lampu, penutu lantai, dan plafon, beberapa contoh berat dari beberapa
komponen bangunan penting yang berguna untuk menentukan
besarnya beban mati suatu gedung.bangunan diperlihatkan dalam Tabel 1.1 berikut
ini:
Tabel 1.1
BERAT SENDIRI BAHAN BANGUNAN DAN
KOMPONEN GEDUNG
BAHAN
|
BERAT
|
BAHAN BANGUNAN
Baja
Beton
Beton
Bertulang
Kayu
(kelas I)
Pasir
(kering udara)
KOMPONEN GEDUNG
Spesi
dari semen, per cm tebal
Dinding
bata merah ½ batu
Penutup
atap genting
Penutup
lantai ubin semen per cm tebal
|
7850 kg/m3
2200 kg/m3
2400 kg/m3
1000 kg/m3
1600 kg/m3
21 kg/m2
250 kg/m2
50 kg/m2
24 kg/m2
|
(Sumber:
Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung, 1983)
b. Beban Hidup, adalah beban gravitasi yang bekerja pada struktur dalam masa layannya, dan timbul
akibat penggunaan suatu gedung. Yang termasuk beban ini adalah berat manusia, perabotan yang dapat
dipindah-pindah, kendaraan dan barang-barang lainnya. Karena besar dan lokasi beban yang senantiasa
berubah-ubah, maka penentuan beban hidup secara pasti adalah merupakan suatu hal yang cukup sulit.
Bebarapa contoh beban hidup menurut kegunaan suatu bangunan, ditampilkan dalam Tabel 1.2
Tabel 1.1
BERAT SENDIRI BAHAN BANGUNAN DAN KOMPONEN GEDUNG
BAHAN
|
BERAT
|
BAHAN BANGUNAN
Lantai
dan tangga rumah tinggal sederhana
Lantai
sekolah, ruang kuliah, kantor, took,
toserba, restoran, hotel, asrama, dan rumah sakit
Lantai
ruang olah raga
Lantai
pabrik, bengkel, gedung, perpustakaan, ruang arsip, took buku, ruang mesin
dll
Lantai
gedung parker bertingkat, untuk lantai bawah
|
125 kg/m2
250 kg/m2
400 kg/m2
400 kg/m2
800 kg/m2
|
c. Beban Angin, adalah beban yang bekerja pada strukturakibat tekanan-tekanan dari gerakan angin. Beban angin sangat tergantung dari lokasi dan ketinggian dari struktur. Besarnya tekanan tiup harus diambil minimum sebesar 25 kg/m2, kecuali untuk bangunan-bangunan berikut:
1. Tekanan tiup di tepi laut hingga 5 km dari pantai harus diambil minimum 40 kg/m2
2. Untuk bangunan di daerah lain yang kemungkinan tekanan tiupnya lebih dari 40 kg/m2kan, harus diambil sebesar P = V2/16 (kg/m2), dengan V adalah kecepatan angin dalam m/s
3. Untuk cerobong, tekanan tiup dalam kg/m2 harus ditentukan dengan rumus (42,5 + 0,6h), dengan b adalah tinggi cerobong seluruhnya dalam meter. Nilai tekanan tiup yang diperoleh dari hitungan diatas harus dikalikan dengan suatu koefisien angin,
1.
untuk mendapatkan gaya
resultan yang bekerja pada bidang kontak tersebut.
d. Beban Gempa, adalah semua beban static ekivalen yang
bekerja pada struktur akibat adanya pergerakan tanah oleh gempa bumi, baik
pergerakan arah vertical maupun horizontal. Namun pada umumnya percepatan tanah
arah horizontal lebih besar daripada arah vertikalnya, sehingga pengaruh gempa
horizontal jauh lebih menentukan daripada gempa vertical. Besrnya gaya geser
dasar (static ekivalen) ditentukan berdasarkan persamaan
, dengan Wt adalah berat total bangunan
termasuk beban hidup yang bersesuaian.
1.1. KONSEP
DASAR LRFD
Dua
filosofi yang sering digunakan dalam perencanaan struktur baja adalah
perencanaan berdasarkan tegangan kerja/working
stress design(Allowble Stress Design/ASD)
dan perencanaan kondisi batas/limit
states design (Load and Resistence Factor Design/LRFD). Metode ASD dalam perencanaan struktur baja telah
digunakan dalam kurun waktu kurang lebih 100 tahun. Dan dalam 20 tahun terakhir
prinsip perencanaan struktur baja mulai beralih ke konsep LRFD yang jauh lebih
rasional dengan berdasarkan pada konsep probabilitas. Untuk lebih memahami
latar belakang pengembangan metode LRFD dengan ilmu probabilitas, maka berikut
akan sedikit dibahas mengenai prinsip-prinsip dasar dalam ilmu probabilitas.
Dalam metode LRFD tidak diperlukan analisa probabilitas secara penuh,
terkecuali untuk situasi-situasi tidak umum yang tidak diatur dalam peraturan.
Ada bebarapa tingkatan dalam design
probabilitas. Metode Probabilitas penuh (fully
Probabilistic Method) merupakan tingkat III, dan merupakan cara analisa
yang paling kompleks. Metode Probabilitas Penuh memerlukan data-data tentang
distribusi probabilitas dari tiap-tiap variable acak (seperti tahanan, beban
dan lain-lain) serta korelasi antara variable tersebut. Data-data ini biasanya tersedia
dalam jumlah yang cukup sehingga umumnya metode Probabilitas Penuh ini jarang
digunakan dalam praktek.
Tingkat
II dalam desain probabilitas dinamakan metode First-Order Second Moment (FOSM) yang menggunakan karakteristik
statistic yang lebih mudah dari tahanan dan beban. Metode ini mengasumsikan
bahwa beban Q dan tahanan R saling bebas secara statistic. Metode LRFD untuk
perencanaan struktur baja yang diatur dalam SNI 03-1729-2002, berdasarkan pada
metode FOSM ini.
1.1. PELUANG
KEGAGALAN
Dalam konteks analisa keandalan suatu struktur, yang
dimaksud istilah kegagalan (failure) adalah terjadinya salah satu dari
jumlah kondisi batas yang telah ditentukan sebelumnya. Faktor beban dan tahanan
dipilih sedemikian rupa sehingga peluang kegagalan suatu struktur adalah kecil
sekali atau masih dalam batas-batas yang dapat diterima. Peluang kegagalan suatu
struktur dapat ditentukan jika tersedia pula fungsi distribusi (seperti nilai
rerata dan standar deviasi) dari tahanan dan tersedia pula fungsi distribusi
dari beban
Untuk mengilustrasikan prosedur analisa keandalan
suatu struktur, perhatikan kurva fungsi kerapatan probabilitas/PDF dalam Gambar
1.4 dari variable acak beban Q serta tahan R. Jika tahanan R > beban yang
bekerja Q, maka struktur tersebut dapat dikatakan masih aman (Survive). Karena nilai R dan Q
bervariasi, maka aka nada kemungkinan kecil bahwa pada suatu saat beban Q >
tahanan R. Situasi ini direpresentasikan dengan daerah berarsir pada Gambar
1.4. Hal inilah yang disebut dengan kegagalan (failure), dengan peluang suatu kegagaan didefinisikan sebagai :
Fungsi kerapatan probabilitas dari R dan Q dalam
Gambar 1.4 digambarkan untuk menunjukkan perbedaan nilai koefisien variasi dari
tahanan dan beban, yaitu VR dan VQ. Daerah di bawah
masing-masing kurva mempunyai luas sama dengan satu, namun terlihat bahwa
tahanan R memiliki penyebaran data yang lebih besar dari pada beban Q. Daerah
terarsir menunjukkan daerah kegagalan (failure)
di mana nilai tahanan lebih kecil daeri beban. Namun demikian, luas daerah
terarsir tersebut tidak sama dengan besarnya peluang kegagalan, sebab daerah
tersebut merupakan gabungan dari dua buah fungsi kerapatan yang memiliki
standar deviasi serta nilai rerata yang berbeda. Untuk mencari nilai peluang
kegagalan Pp biasanya lebih sering digunakan sebuah kurva fungsi
kerapatan g(R,Q) yang dapat digunakan secara langsung untuk menentukan peluang
kegagalan serta indeks keandalan suatu struktur. Jika R dan Q terdistribusi
normal, maka fungsi kerapatan g(R, Q) dapat ditulis menjadi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar